“Money Monster” peringatkan kekuasaan fana saham

“Money Monster” peringatkan kekuasaan fana saham

“Money Monster” peringatkan kekuasaan fana saham – The name is Lee Gates, the show is Money Monster. Without risk, there is no reward.” (Nama saya adalah Lee Gates, acara saya adalah Money Monster. Tanpa risiko, tidak bakal ada hasil).

Film “Money Monster” berpusat kepada tiga tokoh utama, yaitu Lee Gates (George Clooney) yang merupakan pembawa acara populer tentang pasar saham yang dikenal dengan membawakan acara dengan gayanya yang santai, urakan, dan sarkastis.

Dalam setiap acara tersebut, yang biasanya diwarnai dengan beberapa tarian modern para penari latar, Lee menjelaskan mengenai kondisi terbaru pasar saham serta mengemukakan sarannya mengenai saham apa yang harus dibeli atau saham apa yang tetap harus dipertahankan.

Lee dibantu oleh tokoh utama lainnya, Patty Fenn (Julia Roberts), sang pengarah acara yang bertugas sebagai sosok “sutradara” acara tersebut.

Dengan memegang kendali di belakang layar, Patty memiliki sejumlah tim yang mampu mengulas apa yang dibacakan dengan Lee menjadi suatu tontonan yang menarik bagi pemirsa.

Namun, Patty yang masih memegang idealisme ala jurnalisme investigatif di dalam dirinya sebenarnya juga sudah tidak betah untuk bekerja di acara itu, dan berencana untuk pindah.

Tokoh ketiga yang merupakan sosok sentral dalam film bergenre thriller ini adalah Kyle Budwell (Jack OConnell), warga biasa yang memiliki kebencian terhadap Lee Gates dan acara Money Monster.

Kekesalan yang dimiliki Kyle adalah karena seluruh uang tabungan yang dimilikinya, berjumlah 60.000 dolar AS, ternyata habis dalam sekejap karena dirinya menuruti nasihat Lee Gates untuk membeli saham.

Film “Money Monster” merupakan upaya dari sang sutradara Jodie Foster (peraih aktris terbaik Academy Award 1991 untuk film Silence of the Lambs) untuk menganalogikan krisis finansial yang pernah terjadi di AS dan dampaknya secara global pada tahun 2007 sampai dengan 2008.

Sebagaimana saham yang menjadi kerugian banyak warga dalam “Money Monster”, dalam krisis finansial beberapa tahun lalu juga berawal dari krisis “subprime mortgage”, semacam instrumen finansial yang memakai kalkulasi kompleks derivatif saham untuk memudahkan warga mengambil kredit perumahan.

“Subprime mortgage” ternyata juga menimbulkan fenomena “kredit macet” yang membangkrutkan beberapa perusahaan besar di negara adidaya tersebut, yang imbasnya bagaikan tsunami yang melanda dunia, dan efeknya masih terasa hingga kini.

Saham, permainan finansial dari para pemilik modal, terkadang memang digambarkan seperti kasino, orang-orang diminta untuk menyalurkan uang mereka untuk “berjudi”, agar mereka kemungkinan bisa dapat untung besar pada masa mendatang.

Namun, satu hal yang terlupakan, seperti logam yang memiliki dua sisi mata uang, saham juga memiliki dua kemungkinan, yaitu mendapatkan untung atau malah mendapatkan buntung yang berupa kerugian yang teramat besar.

Apalagi, pada masa globalisasi seperti ini, saham makin memiliki peluang besar untuk memantapkan dirinya di puncak perekonomian dengan hanya memainkan tuts depan komputer sambil mempertaruhkan uang banyak warga di pasar modal.

“Money Monster” yang berdurasi sekitar 95 menit ini mengingatkan bahwa instrumen finansial seperti saham tidak lagi bisa dianggap sebagai permainan biasa karena dampaknya bisa merugikan banyak warga dan dengan jumlah yang signifikan pula.

Secara keseluruhan, film “Money Monster”, meski diwarnai sejumlah hiperbol ala Hollywood di sana-sini, tetap dapat menjadi tontonan yang menarik untuk disimak dan direnungkan.(Antaranews.com)

Editor: Aditia Maruli

Facebook Comments

Share This